Loading...

Selasa, 19 Januari 2010

MANAJEMEN MUTU TERPADU

MANAJEMEN MUTU TERPADU

Oleh :
CASNURI, S.Pd.
NIP. 19581029 197803 1 001


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang mampu menghadapi atau menjawab tantangan zaman, maka peranan sektor pendidikan da;lam berbagai jenjang, jenis dan satuan masih dipercaya untuk mewujudkannya, kenyataan tersebut sebagaimana yang terkutip dalam Undang-undang (UU) Nomor 2 Tahun 1989 Bab II Pasal IV bahwa :
Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab ke masyarakat dan kebangsaan.

Dalam memasuki abad ke-21 bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain Kemajuan dan perubahan IPTEK yang cepat, kompleksitas masalah dalam pembangunan dan bebagai aspek kehidupan serta persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi, terutama sistem pasar terbuka antara negara ASEAN (AFTA) tahun 2003 dan antarnegara Asia-Pasifek (APEK) tahun 2020 mendatang. Masalah yang harus dipecahkan untuk menjawab tantangan tersebut adalah sebagimana caranya agar kita dapat mengembangkan mutu sumber daya manusia yang berkualitas dan handal, sehingga benar-benar memiliki kemampuan, kemandirian dan bekerjasama yang saling menguntungkan serta daya saing yang sehat dalam menghadapi tantangan era globalisasi.
Melalui pendidikan manusia memperoleh berbagai ilmu pengeyahuan, sikap dan keterampilan, sehingga dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat untuk kepentingan masyarakat itu sendiri termasuk juga kepentingan dirinya sendiri. Mengingat begitu pentingnya pendidikan, maka sudah sepatutnya apabila berbagai lembaga pendidikan dari waktu ke waktu senantiasa meningkatkan peranannya, termasuk dalam peningkatkan mutu pendidikan. Upaya peningkatan mutu disetiap jenjang dan satua pendidikan pada saat ini sedang terus menerus diupayakan, termasuk di Sekolah Dasar (SD) dalam rangka mencapai tujuan, sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 Bab II Pasal 3 bahwa :
Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

Upaya peningkatan mutu pendidikan tersebut difokuskan dalam rangka mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mencapai ke arah tujuan tersebut menuntut adnya peranan dari berbagai unsur pendidikan yang terlibat, baik pihak sekolah (kepala sekolah dan guru), pemerintah maupun masyarakat.
Secara khusus untuk kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan memiliki kewajiban dalam meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan yang diharapkan. Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah adalah dengan mencari terobosan-terobosan baru, sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan salah satunya melalui pendekatan Manajemen Mutu Terpadu, sebagaimana yang dikemukakan oleh Tim Khusus Depdikbud (1999 : 191) bahwa : “Manajemen Mutu Terpadu adalah suatu pendekatan manajemen yang memusatkan perhatian pada peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu komponen terkait”. Berdasarkan konsep tersebut mengisyaratkan bahwa peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan kepala sekolah akan berhasil apabila terlebih dahulu kepala sekolah melakukan peningkatkan mutu komponen terkait, antara lain : siswa yang berhubungan dengan kesiapan dan motivasi belajarnya, guru yang berhubungan dengan kemampuan profesional, moral kerjanya dan kerjasamanya, kurikulum yang berhubungan dengan relevansi dan operasionalisasi proses pembelajarannya, dana sarana dan prasarana yang berhubungan dengan keefektifan dalam mendukung proses pembelajaran, serta masyarakat yang berhubungan dengan partisipasinya dalam pengembangan program-program pendidikan di sekolah. Mutu komponen-komponen tersebut menjadi fokus perhatian kepala sekolah.
Sejak tahun 1970 pendidikan formal menghadapi berbagai masalah utama, yakni dalam : mutu dan relevansi pendidikan, daya tampung atau pemerataan pendidikan yang berkeadilan dan efektivitas serta relevansi penyelenggaraan pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, maka jelas bahwa langkah pertama yang harus dilakukan kepala sekolah adalah dengan terlebih dahulu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.
Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan, maka menarik untuk dikaji adalah mengenai peranan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan, sehingga judul yang ditetapkan adalah : “Melalui Pendekatan Manajemen Mutu Terpadu Kepala Sekolah Berperan Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMP NEGERI SATU ATAP 1 GANTAR”.

B. Rumusan Masalah
Permasalahan-permasalahan perlu kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pendekatan MMT di SMP NEGERI SATU ATAP 1 GANTAR, mengingat berdasarkan telaahan penulis bahwa selama ini upaya peningkatan mutu tidak selalu tergantung kepada lengkapnya fasilitas pendidikan yang dimiliki, tetapi terdapat pula pada aspek-aspek lainnya yang saling berhubungan.
Berdasarkan hal tersebut maka makalah ini secara tuntas akan mengkaji dan menelaah secara lebih lanjut mengenai peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan MMT, sehingga rumusan masalah yang ditetapkan adalah : “Bagaimanakah peranan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pendekatan manajemen mutu terpadu di SMP NEGERI SATU ATAP 1 GANTAR?”
C. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan yang ingin diperoleh dengan pembuatan makalah ini adalah :
Pertama dari segi teoritis adalah ingin mengetahui dan memahami mengenali peranan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pendekatan MMT, sedangkan dari segi praktis makalah ini dibuat sebagai persyaratan kenaikan pangkat dari golongan IV/a ke IV/b. Dengan demikian dalam tujuan terkandung hal-hal yang bersifat teoritis (keilmuan) dan praktis (kebutuhan).

D. Metoda Penulisan Makalah
Metode Diskriptif dengan pendekatan kualitas merupakan metoda yang tepat dalam penulisan makalah ini karena bersifat mendiskripsikan segala sesuatu yang berhubungan dengan kajian makalah dalam bentuk kata atau kalimat dengan latar peristiwa yang terjadi pada saat sekarang, sebagaimana yang dikemukakan oleh Nana Sudjana dan Ibrahim (1994 : 64) bahwa :
“Penilaian diskriptif kualitatif merupakan penelitian yang berusaha mendiskripsikan suatu gejala, peristiwa atau kejadian yang terjadi pada saat sekarang dimana peneliti berusaha memotret peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatiannya untuk kemudian digambarkan sebagaimana adanya dalam bentuk kata dan kalimat yang dapat memberikan makna”.
Dengan demikian jelas sesuai dengan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai, maka penggunaan metode diskriptif – kualitatif merupakan metode yang paling tepat dan cocok. Lokasi kajian makalah yang dilakukan untuk pengambilan data dan informasi adalah di SMP NEGERI SATU ATAP 1 GANTAR dengan instrumen yang dipergunakan adalah penelitian sendiri. Teknik pengumpulan data : melalui observasi, analisis sendiri dan studi dokumentasi. Observasi dilakukan dengan maksud untuk memperoleh informasi sedetail dan subyektif mungkin mengenai berbagai aspek, faktor dan kegiatan dalam kajian makalah di lokasi. Untuk itu, peneliti berperan sebagai observer yang aktif melalui kegiatan penggalian data dan informasi yang diperlukan. Selanjutnya analisis pribadi merupakan penggalian data dan informasi yang dilakukan sendiri oleh peneliti sehubungan dengan fokus kajian makalah. Keumudian studi dokumentasi dilakukan dengan mempelajari berbagai dokumen yang berkaitan dengan fokus kajian makalah. Dalam prakteknya, ketiga kegiatan tersebut dilakukan secara bersamaan, seperti dalam melakukan observasi disertai juga dengan analisis pribadi dan studi dokumentasi. Dengan demikian, data dan informasi yang diperoleh betul-betul representatif, akurat dan terpercaya.
Tahap orientasi merupakan tahap awal dari proses penelitian dengan melakukan prasurvai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperoleh gambaran mengenai lokasi, permasalahan dan untuk mengklasifikan fokus kajian makalah di luar ide pertama peneliti. Setelah itu dilakukan observasi dan analisis pribadi kepada beberapa komponen pendidikan yang diperkirakan menguasai permasalahan yang akan diteliti. Konteks analisis pribadi dan observasi ini masih bersifat umum agar peneliti memperoleh gambaran yang lebih luas, menemukan hal-hal yang khas, penting dan sangat berguna yang akan dijaikan fokus kajian makalah yang sesungguhnya. Setelah peneliti memperoleh kajian makalah yang secara akurat, selanjutnya proses pengkajian menuju pada tahap eksplotasi melalui pelaksanaan telaahan yang lebih mendalam, lebih berfokus pada masalah dalam kajian makalah, lebih berstruktur dan didasarkan pada hasil analisis pribadi pada tahap observasi. Selain itu juga dilakukan observasi terhadap fokus kajian makalah, sehingga diperoleh informasi yang lebih mendalam dan lebih khusus sesuai dengan masalah yang sedang dikaji dalam sasaran utamanya. Selanjutnya dilakukan tahap member check yang merupakan tahap ketiga atau terakhir setelah orientasi dan eksplorasi. Dalam tahap ini peneliti melakukan pencekkan kemudian atas data dan informasi yang telah diperoleh kepada pihak terkait. Hal ini dilakukan agar data atau informasi yang telah terkumpul merupakan data dan informasi yang benar-benar demikian adanya dan terjamin keabsahannya.
Dalam teknik pengolahan data dilakukan dengan cara melalui tingkat kredibilitas transferabilitas dan dependabilitas serta kofirmabilitas. Kredibilitas merupakan persoalan seberapa jauh kebenaran hasil penelitian dapat dipercaya. Kredibilitas menggambarkan kecocokan konsep peneliti dengan konsep yang ada. Selanjutnya transferabilitas atau validitas eksternal merupakan pengukuran hingga makalah hasil kajian makalah dapat diaplikasikan di lapangan dalam situasi yang lain. Dengan demikian kriteria transferabilitas dan konfirmabilitas berkaitan dengan masalah kebenaran penelitian naturalistik yang ditunjukan dengan dilakukannya proses “audit trail” yang berarti bahwa “audit” merupakan pemeriksaan terhadap ketelitian yang dilakukan sehingga timbul keyakinan bahwa apa yang dilaporkan itu demikian adanya, sedangkan “trail” mengandung makna jejak yang dapat dilacak dan ditelusuri. Kegiatan ini menurut S. Nasution (1992 : 69) dapat dilakukan melalui :
1. Mencatat selengkap mungkin hasil telaahan peneliti, observasi dan studi dokumentasi sebagai data mentah untuk kepentingan analisis berikutnya.
2. Menyusun hasil analisis dengancara menyeleksi data mentah di atas, kemudian dirangkum dan disusun kembali dalam bentuk diskripsi yang lebih teratur dan sistematis.
3. Membuat kesimpulan sebagai hasil sintesis data.
4. melaporkan seluruh proses penelitian, sejak dari prasurvai dan penyusunan desain penelitian sampai pengolahan data terakhir sebagai kesimpulanhasil penelitian.
Sebagai tahap akhir dari metode penulisan makalah ini dilakukan analisis data : melalui reduksi dan display data, pengambilan kesimpulan serta verifikasi data. Reduksi data merupakan kegiatan meringkas kembali catatan-catatan lapangan dengan memilih hal-hal yang pokok berhubungan dengan kajian makalah. Selanjutnya ringkasan-ringkasan pokok tersebut dirangkum dalam susunan yang lebih sistematis, sehingga dengan mudah dapat diketahui polanya. Dalam kajian makalah kualitatif, proses analisis dilakukan sejak pertama sampai dengan penelitian berakhir. Oleh karena itu kesimpulan yang diambil pada awalnya bersifat sementara dan masih kurang jelas untuk memantapkan kesimpulan tersebut agar tegas dan mantap, maka verifikasi dilaksanakan selama kajian makalah berlangsung dengan maksud untuk menjamin tingkat kepercayaan hasil kajian, sehingga prosesnya pun bersama dengan member check dan triangulasi.






BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan
Sebagai pemimpin tunggal sekolah, kepala sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengajak dan mempengaruhi semua orang / pihak yang terlibat dengan kegiatan sekolah untuk bekerjasama mencapai tujuan sekolah yang diharapkan, sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah merupakan “benang merah” yang mengikat dan mengarahkan semua kegiatan personal yang ada di sekolah untuk bekerja secara optimal dalam pekerjaannya masing-masing tetapi selau terkait dengan upaya pencapaian tujuan sekolah secara keseluruhan sesuai dengan target yang ditetapkan bersama.
Secara rinci, tugas-tugas pokok kepala sekolah sebagai pemimpin formal sekolah menurut Taty Rosmiati (1999 : 46) dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan sekolah ;
2. Mengambil keputusan secara tepat dalam setiap masalah yang dihadapi;
3. Mengantisipasi dan memecahkan masalah secara dini setiap masalah yang dihadapi organisasi ;
4. Mengembangkan suasana kerja yang menumbuhkan kreatifitas bawahan dalam pekerjaannya ;
5. Mengkomunikasikan kebijakan atasan sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir ;

Pelaksanaan tugas-tugas kepemimpinan pendidikan yang harus dilaksanakan kepada sekolah membutuhkan sejumlah kemampuan kepemimpinan pendidikan yang propesional.
Dalam situasi pendidikan kepala sekolah merupakan pengelola satuan pendidikan yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan kegiatan pendidikan di sekolah yang dipimpinnya secara keseluruhan, melalui pengelolaan kegiatan pendidikan secara umum, tugas yang harus dilakukan oleh kepala sekolah adalah melaksanakan administrasi sekolah denghan seluruh subtansinya dan melakukan pembinaan kepada para guru melalui kegiatan supervisi. Selain sebagai pengelola satuan pendidikan, kepala sekolah sekaligus adalah sebagai pimpinan (formal) pendidikan di sekolahnya yang memiliki tugas melaksanakan kepemimpinannya baik fungsi yang berhubungan dengan pencapaian tujuan maupun penciptaan iklim sekolah yang kondusif bagi tercipta dan terlaksananya proses belajar mengajar dengan baik, sehingga pada guru dan murid dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih baik. Adapun tugas–tugas kepemimpinan kepala sekolah meliputi proses-proses dalam kegiatan perencanaan bersama para guru atau bahkan sendiri mengenai program kerja sekolah dan melaksanakannya, pengaturan dan pengorganisasian kegiatan guru, penggerakkan atau pengarahan pelaksanaan kegiatan ke arah pencapaian tujuan sekolah, pelibatan para guru dalam pengambilan keputusan, pemudahan terlaksananya Proses Belajar Mengajar, pencipta iklim kerja yang kondusif, menilai prestasi kerja guru, penumbuhan sikap positif para guru dan penciptaan organisasi sekolah yang fungsional dan tangguh.
Di Indonesia seorang pemimpin (termasuk pemimpin pendidikan ) harus memiliki dan mencerminkan pada dirinya karakteristik atau azas kepemimpinan Pancasila yang bersumber dari nilai-nilai dan norma-norma yang terkandung dalam sila-sila Pancasila. Karakteristik azas tersebut menurut Kartini Kartono (1996 : 206) meliputi : (1) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, (2) Hing Ngarso Sung Tulodo, (3) Hing Madyo Mangun karso, (4) Tut Wuri Handayani (5) Waspada Purba Wisesa, (6) Ambek Para Marta, (7) Prasaja, (8) Satya, (9) Hemat, (10) Terbuka, dan (11) Bersifat Kesatria. Tiga azas tersebut, yaitu azas kedua, ketiga, keempat, merupakan konsepsi kepemimpinan yang berasal dari Ki Hadjar Dewantara yang dijadikan karakteristik utama kepemimpinan Pancasila yang sudah sepantasnya melandasi praktek kepemimpinan kepala sekolah sesuai dengan situasi yang dihadapinya, hal tersebut dimaksudkan untuk dapat memberikan kesempatan bagi guru berkembang, sehingga mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Sedangkan khusus untuk azas yang keenam merupakan azas yang berhubungan dengan fungsi dan peran kepala sekolah selaku pimpinan pendidikan dalam bertugas yang harus senantiasa bertindak berdasarkan pertimbangan yang matang.
Sebagai pemimpin dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, maka kepala sekolah perlu memiliki kompetensi dasar yang disyaratkan berupa keterampilan manajerial sebagaimana yang dikemukakan oleh Udi Tarmudi Saputra (1991 : 2), yaitu :
1. Keterampilan teknik yang cukup untuk melakukan upaya daripada tugas, khususnya yang menjadi tanggung jawabnya (technical skill) ;
2. Keterampilan yang bercorak kemanusiaan yang cukup dalam bekerja sama untuk meciptakan keserasian kelompok dan mampu menumbuhkan kerja sama di antrara anggota-angota yang ia pimpin (human skill) ; dan
3. keterampilan dalam menyelami keadaan untuk menentukan antarhubungan dari berbagai faktor yang terkait dalam suasana itu dan bisa memberikan petunjuk kepadanya untuk menetapkan langkah-langkah baru, sehingga mencapai hasil yang maksimal bagi sekolah secara keseluruhan.
Ketiga keterampilan tersebut perlu dimiliki oleh setiap pemimpin pada level administrasi atau manajemen maupun termasuk kepala sekolah, sehingga dalam setiap gerak dan langkah selaku pimpinan pendidikan terutama yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas selalu menjadikan organisasinya lebih efektif dan efisien kepada upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam melaksanakan kepemimpinan seorang kepala sekolah tidak akan terlepas dari pendekatan yang dipergunakannya, termasuk pendekatan kepribadian. Inti dari teori ini menetapkan bahwa apa yang membuat seorang pemimpin berhasil dalam melaksanakan tugas bersumber dari kepribadian pemimpin itu sendiri. Kepribadian seorang pemimpin dalam bertugas pada umumnya ditetukan oleh keberhasilan sifat-sifat jasmaniah dan rohaniahnya. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui kaitan antara keberhasilan seorang pemimpin dalam bertugas dengan sifat-sifat atau karakteristiknya. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin berhasil dalam bertugas sangat ditentukan oleh kemampuan pribadinya. Akan tetapi, hasil penelitian ilmu social untuk dapat mengklasifikasikan suatu sifat kepribadian atau sekumpulan kualitas yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan antara pemimpin dengan yang bukan. Kepemimpinan yang efektif dalam bertugas pada dasarnya merupakan salah satu fenomena yang sangat kompleks dalam hubungan antarmanusia dan merupakan teka-teki yang tidak akan habis bagi siapa saja yang ingin memahaminya. Oteng Sutisna ( 19989 : 33-34 ), mengemukakan sifat-sifat kepemimpinan dalam betugas yang harus dimiliki yaitu “(1) Kemampuan administratif yang luas dan pemahaman tentang tujuan, proses dan teknologi yang mendasari pendidikan (2) kreatif (3) Komitmen (4) Luwes dan (5) Pandangan jauh ke depan”.
Berdasarkan uraian tersebut, maka seorang kepala sekolah dituntut kreaktif terutama dalam bertugas dengan menciptakan gagasan yang tinggi dalam menerjemahkan tuntutan Filosofis dan idiologis menerut kebutuhan lingkungan yaitu kemauan dan kemampuan berlatih untuk bersungguh-sungguh pada suatu hal, memperoleh informasi, menjaring yang penting dan menciptakan gagasan-gagasan yang baru dalam menyelenggarakan pendidikan lebih bermakna. Komitmen dalam makna merasa terpanggil dan bertanggung jawab terhadap tugasnya serta berusaha meningkatkan kemampuan propesional secara terus menerus. Luwes dalam arti mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan kondisi baru. Meskipun demikian, pendekatan sifat-sifat kepribadian mendapat kritikan dan banyak kelemahannya untuk diterapkan dalam setiap organisasi, tetapi cukup penting dipertimbangkan dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinan. Pendekatan ini telah meletakan dasar untuk munculnya pendekatan lain yang berpusat padaperilaku pemimpin dalam interaksinya dengan orang lain dalam kelompok organisasi.
Pendekatan lainnya dalam kepemimpinan adalah pendekatan perilaku yang memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku dan bukan dari sifat-sifat pemimpin. Pedekatan ini melihat dan mengidentifikasi perilaku yang khas dari pemimpin mengembangkan kebiasaan-kebiasaan perilakunya yang dapat mengoptimalkan pengaruhnya kepada orang lain, terutama dalam bertugas asalkan yang bersangkutan mau dan bersedia. Oleh karena itulah dilandasi oleh kemauan, maka setiap pemimpin dapat mempelajari dan mempraktekan kebiasaan-kebiasaan yang konstruktif dalam beramah tamah, pengontrolan diri, menjalankan komunikasi dua arah melaksanakan pendelegasian wewenang, menghargai pendapat orang lain serta mau memperhatikan persoalan yang dihargai orang lain.
Selanjutnya mempelajari pendekatan kepemimpinan yang berhubungan dengan pendekatan kontingensi dan situasional. Teori pendekatan kontingensi dikembangkan oleh Fiedler dan chemers yang menyimpulkan bahwa seseorang menjadi pemimpin bukan saja karena faktor kepribadian yang dimiliki, tetapi juga dipengaruhi faktor situsi dan saling hubungan antara pemimpin dengan situsi. Keberjasilan pemimpin dalam mengambil keputusan tergantung diri pemimpin maupun pada keadaan organisasi. Sedang teori kepemimpinan situasional adalah teori yang dikembangkan oleh Harsey dan Kenneth H. Blanchard. Teori ini merupakan perkembangan yang mutakhir dari teori kepemimpinan dan merupakan hasil baru model keefektifan seorang pemimpin dalam bertugas.
Model kepemimpinan stuasional didasarkan pada hubungan garis lengkung di antaranya ada tiga faktor, yaitu (1) perilaku tugas, (2) perilaku hubungan, dan (3) perilaku kematangan. Ketiga faktor tersebut, tingkat kematangan bawahan merupakan faktor yang paling dominan, karena tekanan utama dari teori ini terletak pada perilaku pimpinan dalam hubungannya dengan bawahan terutama pada saat bertugas. Teori kepemimpinan situasional dianggap telah cukup relevan sebagai dasar berpijak dalam melihat pendekatan perilaku kepemimpinan yang dilakukan kepala sekolah.
Meskipun di antra para pemimpin, termasuk kepala sekolah banyak yang memiliki keahlian dan jabatan dalam pekerjaan yang sama, selalu ada terlihat perbedaan dalam setiap perilaku dan gaya yang ditampilkannya, sehingga terdapat pula perbedaan pemimpin setiap bertugas. Perbedaan-perbedaan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengarui. Sebenarnya untuk mengungkapkan sekaligus faktor- faktror yang mempengarui kepemimpinan kepala sekolah dalam bertugas dalam bertugas harus ditinjau terlebih dahulu dari dua segi, yaitu dari segi kepemimpinan dan segi lainnya. Dari segi kepemimpinan M. Ngalim Purwanto (1992:59-61 ) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan kepala sekolah adalah : “(1) keahlian dan pengetahuan (2) jenis pekerjaan atau lembaga (3) sifat-sifat kepribadian pemimpin dan pengikut serta (4) sangsi-sangsi yang ada di tangan pimpinan”. Selanjutnya Oteng sutisna (1989 : 58) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimipinan, yaitu :”(1) pendidikan (2) pengalaman (3) kepribadian (4) lingkungan social budaya”. Berdasarkan kedua pendapat tersebut terdapat kesamaan dan perbedaan, namun keduanya dapat saling melengkapi dan kalau ditelaah, maka faktor tersebut ada yang besifat dari dalam diri pemimpin maupun dari luar. Selanjutnya faktor – faktor yang mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan tugas lain menurut Hamzah Ya’qub (1994 : 160-161) meliputi : “(1) faktor orang, (2) psychologis, (3) sasaran, (4) waktu, dan (5) pelaksana”. Secara lebih lengkap Murdick dan Ross yang dikutip oleh Udi Turmudi Saputra ( 19991 : 71-72 ) mengemukakan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi kepemimpinan adalah : “(1) rasionalisasi, (2) psychologis, (3) social, (4) budaya, (5) Filosofi, (6) konteks, (7) informasi, (8) partisipasi dan (9) waktu”.
Dari pendapat-pendapat tersebut, baik yang menyangkut faktor yang mempengaruhi kepemimpinan maupun aspek lainnya ternyata faktor – faktor tersebut memiliki tingkat kebermaknaan yang sama. Namun demikian, jika ditelaah lebih jauh, maka dari segi perbedaannya adalah terletak pada lama dan tidaknya faktor – faktor tersebut memberikan pengaruh, misalnya kepemimpinan bersifat tetap untuk jangka waktu yang panjang, sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi pelaksanaan tugas lain relatif dalam jangka waktu yang pendek.
Dengan demikian, maka sebenarnya faktor yang mempengaruhi pemimpin, termasuk kepala sekolah dalam bertugas adalah penggabungan dari faktor – faktor yang mempengaruhi kepemimpinan dan faktor – faktor lainnya.
B. Mutu Pendidikan dalam Konteks Manajemen Mutu Terpadu
1. Konsep Dasar Mutu Pendidikan
Dalam bidang pendidikan hingga saat ini konsep mutu masih merupakan konsep yang sulit untuk dijelaskan karena demikan luasnya faktor – faktor yang mempengaruhi terhadap pendidikan. Namun demikian meskipun konsep mutu sulit dicari titik temunya alangkah baiknya jika ditemukan konsep mutu menurut pendapat para ahli. Intertional Busines Management (IBM) yang dikutip oleh Yoyon Bahtiar Irianto (1999 : 5) mengemukakan secara sederhana bahwa “mutu sama dengan kepuasan pelanggan”. Sedangkan secara lengkap berdasarkan pendapat yang sama dikemukakan bahwa : “mutu merupakan paduan sifat-sifat dari suatu barang atau jasa yang mampu memberikan kepuasan terhadap pelanggan”.
Dengan demikian, maka mutu berhubungan dengan sifat-sifat baik atau positif yang dimiliki oleh suatu produk maupun jasa, sehingga mampu memberikan kepuasan terhadap langgan”.
Dengan demikian, maka mutu berhubungan dengan sifat-sifat baik atau positif yang dimiliki oleh suatu produk maupun jasa, sehingga mampu memberikan kepuasan bagi para pengguna. Dihubungkan dengan lembaga pendidikan menunjukan bahwa mutu pendidikan berhubungan dengan kualitas lemabaga pendidikan dalam memberikan layanan jasa kepada pelanggan, sehingga memberikan kepuasan dalam bentuk output pendidikan. Oleh karena itulah jelas bahwa mutu pendidikan sangat penting agar sekolah senantiasa diminati oleh masyarakat. Selanjutnya indicator mutu pendidikan menurut Abdul Manan yang dikutip oleh Taty Rosmiati (1999 : 24 – 25) mencakup :
a. Personal sekolah dan siswa menjalin hubungan kemitraan yang akrab ;
b. Di sekolah yang bermutu tidak akan pernah ada pengajaran dan pengujian yang tidak bermakna;
c. Di Taman kanak-kanak hinga kelas tiga sekolah menengah diberikan penekanan pada keterampilan berbicara, menulis, menghitung, dan pemecahan masalah, baik secara individu maupun kelompok, karena ketrampilan tersebut memiliki penghargaan terbesar dalam kehidupan mereka;
d. Mata pelajaran Sejarah, IPS, Kesehatan, IPA dan bahasa asing diajarkan dengan cara yang dianggap terbaik oleh gurunya. Mereka tidak dipaksa, melainkan secara suka rela untuk mencakup landasan bagi siswa atau mempersiapkan siswa untuk tes-tes tertentu dari luar sekolah (seperti Ebtanas);
e. Semua siswa diminta untuk mengevaluasi semua kerjanya yang ditunjukan pada kualitas ;
f. Semua tes dilaksanakan dengan buka buku;
g. Sepanjang siswa ingin meperbaiki peringkat skor yang telah dicapai bisa saja mereka diberi kesempatan untuk berupaya meningkatkannya hingga mencapai skor maksimum;
h. Kelompok siswa berprestasi dilatih menjadi tutor bagi siswa yang perlu tutor privat dalam suatu mata pelajaran;
i. Di sekolah bermutu tidak akan pernah dijumpai kegiatan atau siswa asyik sendirian mengerjakan tugasnya, oleh karena tidak ada pekerjaan rumah yang bernilai paksaan; dan
j. Semua guru dan siswa diberi pengajaran tentang teori pengawasan.

Jika indikator-indikator tersebut ditelaah lebih lanjut adalah sulit sekali untuk mengkaji mutu sekolah dilihat dari indikator-indikatornya karena sngat luas dan tidak begitu spesifik. Belum lagi dilihat dari indikator lain yang berkaitan dengan murid, fasilitas, PBM, guru, biaya, proses pendidikan dan keluaran pendidikan. Oleh karena itu perlu dicari indikator apa yang benar-benar dapat memberikan gambaran mutu sekolah secara lebih terarah.

2. Mutu Pendidikan dalam Konteks Manajemen Mutu Terpadu
“Menurut Yoyon Bahtiarb Irianto (1999 : 44) dikemukakan bahwa : Manajemen Mutu Terpadu berkenaan dengan prinsip-prinsip dan cara-cara mengelola mutu yang bersifat terpadu”. Selanjutnya menurut Tim Khusus Depdikbud (1999 : 191) bahwa : “Manajemen Mutu Terpadu adalah suatu pedekatan manajemen yang memusatkan perhatian pada peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan komponen terkait”. Sedangkan menurut Amin Wijaya Tunggal (1992 : 9) bahwa : “Manajemen Mutu Terpadu dapat didefinisikan sebagai mengelola organisasi secara menyeluruh agar organisasi memperoleh keunggulan pada semua dimensi produk dan jasa, yang penting bagi pelanggan”.
Berdasarkan kedua konsep tersebut, maka dapat ditelaah bahwa MMT merupakan pendekatan yang berusaha untuk meningkatkan mutu organisasi melalui peningkatan mutu setiap komponen yang berhubungan dngan MMT yang perlu mendapat perhatian untuk ditingkatkan mutunya, menurut Tim Khusus Depdikbud (1999 : 191) terdiri dari :
a. Siswa, berhubungan dengan kesiapan dan motivasi belajarnya ;
b. Guru, berhubungan dengan kemampuan professional, moral kerjanya (kemampuan personal) dan kerja samanya (kemampuan social);
c. Kurikulum, berhubungan dengan relevansi konte dan operasionalisasi proses pembelajarannya;
d. Dana sarana, dan prasarana, berhubungan dengan kecukupan dan keefektifan dalam mendukung proses pembelajaran; dan
e. Masyarakat (orang tua, pengguna lulusan dan perguan tinggi), berhubungan dengan partisipasinya dalam pengembangan program-program pendidikan di sekolah.

Kesemua komponen tersebut menjadi perhatian kepala sekolah sebagai orang yang berkompenten dan bertanggung jawab penuh meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.
Untuk mencapai keberhasilan dalam penggunaan pendekatan MMT di organisasi tersebut di lembaga pendidikan, maka patut diperhatikan prinsip yang dipergunakannya. Selama ini sekolah dianggap sebagai suatu “Unit produksi”di mana siswa sebagai bahan mentah dan lulusan sekolah sebagai hasil produksi. Dalam MMT sekolah dipahami sebagai “Unit Layanan Jasa”, yakni layanan pembelajaran. Sebagai unit layanan jasa, pihak-pihak yang dilayani sekolah meliputi : pelayanan internal terdiri dari guru, pustakawan, laboran, teknisi dan tenaga administrasi dan pelanggan ekternal terdiri dari : pelanggan primer (siswa), pelanggan sekunder (orang tua, pemerintah dan masyarakat) serta pelanggan tersier (pemakai/ penerima lulusan).
Sedangkan unsur-unsur Manajemen Mutu Terpadu menurut Amin Wijaya Tunggal (1992: 10) meliputi :standar mutu yang memperhatikan pelanggan, hubungan pemasok pelanggan, orientasi pencegahan, mutu pada setiap sumber dan perbaikan yang berkesinambungan”. Keberhasilan MMT di lembaga pendidikan merupakan hal yang sangat diharapkan, baik oleh pihak internal sekolah maupun ekternal sekolah. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh sekolah jika berhasil dalam menerapkan MMT menurut Kaoru Ishikawa yang dialihbasakan oleh Budi Santosa(1987 : 118) adalah:
a. Memperbaiki kesehatan dan karakter organisasi;
b. Menggabungkan usaha-usaha seluruh personal, mencapai partisipasi secara keseluruhan dan menetapkan suatu system kerja sama;
c. Menetapkan sistim jaminan mutu dan mendapatkan kepercayaan dari pelanggan atau konsumen;
d. Bercita-cita untuk mencapai mutu tertinggi;
e. Membentuk suatu sistem manajemen yang dapat menghadapi berbagai macam tantangan;
f. Menghargai kemanusiaan, memelihara sumber daya manusia memperhatikan kebahagiaan pegawai, menyajikan tempat kerja yang menyenangkan dan mewariskan pelita pada generasi berikutnya; serta
g. Pemanfaatan teknik-teknik kendali mutu.

Menurut MMT keberhasilan sekolah diukur dari tingkat kepuasan pelanggan,baik internal maupun ekternal. Sekolah dikatakan berhasil jika mampu memberikan layanan sama atau melebihi harapan pelanggan. Dilihat dari jenis pelanggannya, maka sekolah dikatakan berhasil menurut Tim Khusus Depdikbut(1999 :193)meliputi:
a. Siswa puas dengan layanan sekolah, antara lain puas dengan pelajaran yang diterima, puas dengan perlakuan oleh guru maupun pimpinan, puas dengan fasilitas yang disediakan sekolah dan sebagainya. Pendek kata, siswa menikmati sitiasi sekolah.
b. Orangtua siswa puas dengan layanan terhadap anaknya maupun layanan kepada orangtua, misalnya puas karena menerima laporan periodik tentang perkembangan siswa mapun program-program skolah.
c. Pihak pemakai/penerima lulusan (perguruan tinggi, industri, masyarakat) puas karena mnerima lulusan dengan kualitas yang sesuai dengan harapan.
d. Guru dan karyawan puas dengan pelayanan sekolah, misalnya pmbagian kerja, hubungan antar guru / karyawan / pimpinan / gaji / honorarium, dan sebagainya.

Sifat layanan yang harus diberikan sekolah agar pelanggan merasa puas berdasarkan pengutip yang sama meliputi :kepercayaan, keterjaminan, penampilan, perhatian dan ketanggapan.


BAB III
PAMBAHASAN MANAJEMEN MUTU TERPADU


Tujuan sekolah yang dikembangkan pada akhirnya adalah untuk meraih mutu lembaga pendidikan. Dalam lembaga pendidikan produk berhubungan dengan jasa. Dengan demikian jasalah yang merupakan tujuan utama lembaga pendidikan, baik jasa pendidikan dan pengajaran, penelitian,pengabdian kepada masyarakat maupun jasa administrasi dan yang lainnya.
Peran pimpipinan lembaga pendidikan (kepala sekolah) amatlah penting mecapai mutu jasa yang diharapkan oleh pelanggannya. Oleh karena itu peran kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pendekatan Manajemen Mutu Terpadu di SMP NEGERI SATU ATAP 1 GANTAR antara lain :
1. Melalukan proses komunikasi sexara luas berbagai pihak, baik dengan guru dan siswa, tenaga administrasi, maupun dengan masyarakat. Dunia usaha/industri dan pemerintah pendekatan yang dilakukan adalah bersifat top-down dan bottom up dan slalu dua arah. Top-down artinya komunikasi dilakukan oleh kepala sekolah kepada pihak-pihak atau departemen diatasnya, antara lain pengawas sekolah, pimpinan kepala cabang dinas pendidikan Kecamatan Anjatan dan bahkan sampai dengan kepala cabang dinas pendidikan Kabupaten Indramayu, sedangkan secara bottom up kepala sekolah melakukan komunikasi dengan pihak-pihak yang ada di bawahnya, terutama para guru.
2. melakukan upaya penjaminan mutu sekolah terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat yang merupakan titk sentral kebijaksanaan dan pelaksanaan program melalui jalur-jalur untuk menampung aspirasi masyarakat, yang dalam hal ini sering dengan berlakukannya Otonomi Sekolah melalui penerapan MBS dengan dibentuknya Dewen Sekolah.
3. Mengupayakan struktur organisasi lebih horizontal dan cukup jelas yang menjadikan hubungan kepala sekolah sebagai pimpinan dengan para mitra kerja tidak terlalu kaku mengikuti hierarki. Rincian tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing tenaga pengajar sekolah dibuat sejelas mungkin, sehingga dapat menerapkan perlakuan yang tetap terhadap mitra kerjanya.
4. Mengupayakan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan membudayakan mutu sejak awal. Peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah memberikan kesempatan kepada para guru untuk mengikuti program pendidikan lanjutan, aktif dalam kelompok kerja keprofesian, mengikuti seminar atau lokakarya yang dapat menunjang peningkatan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu kepala sekolah menerapkan prinsip bahwa setiap orang berusaha melakukan sesuatu dengan benar pertama kali dan seterusnya.
5. Mempelopori inovasi dan pembaharuan dalam budaya kerja di dalam lembaga pendidikan di SMP NEGERI SATU ATAP 1 GANTAR.
6. Bersama-sama mitra kerja (guru, dan anggota masyarakat) berupaya mengatasi kendala-kendala yang timbul, terutama yang dapat menghambat terhadap keberhasilan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pendekatan MMT.
7. Mengembangkan tim-tim yang efektif dan efisien untuk mengidentifikasikan dan menyelesaikan masalah. Dalam hal ini kepala sekolah membentuk tim yang terdiri dari guru, staf sekolah dan anggota masyarakat yang diketuai sendiri kepala sekolah yang mampu bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan dan dianggap sangat esensial.
8. Mengembangkan mekanisme yang sesuai untuk memantau dan menilai keberhasilan. Dalam hal ini kepala sekolah melakukan penilaian terhadap keseluruhan program pendidikan yang telah dilakukan, sehingga diperoleh hasil yang benar-benar memuaskan.
Dengan demikian tanggung jawab kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga pendidikan cukup berat, memimpin penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, membina tenaga kependidikan, tenaga administrasi, teknis dan peserta didik, serta harus selalu memelihara hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan pemerintah. Arena itu melalui penerapan gaya kepemimpinan Manajemen Mutu Terpadu dengan memberdayakan semua tenaga yang terlibat dan fasilitas yang tersedia di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Seni kepemimpinan adalah bagaimana mencapai tujuan dan mengharapkan hasil yang bermutu melalui orang lain.












BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan dalam kontek MMT dengan melibatkan segenap komponen yang terlibat, antara lain : siswa, guru, kurikulum, dana, fasilitas dan masyarakat.
2. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dalam konteks penyelenggaraan pendidikan berhubungan dengan kemampuan untuk mempengaruhi, mendorong dan mengajak orang lain mencapai tujuan pendidikan termasuk dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pendekatan MMT.
3. Upaya kepala sekolah SMP NEGERI SATU ATAP 1 GANTAR sebagai pemimpin pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pendekatan MMT dapat dilakukan dengan cara berkomunikasi secara luas dengan berbagai pihak, menjaga agar kebutuhan dam harapan pelanggan merupakan titik sentral kebijaksanaan dan pelaksanaan program, mengupayakan struktur organisasi lebin horizontal dan cukup jelas, mengupayakan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan fasilitas serta membudayakan mutu sejak awal, mempelopori inovasi dan pembaharuan dalam budaya kerja di dalam lembaga pendidikannya, mengembangkan tim-tim yang efektif dan efisien untuk mengidentifikasikan dan menyelesaikan masalah serta mengembangkan mekanisme yang sesuai untuk memantau dan menilai keberhasilan.

B. Saran-saran
Beberapa saran yang dapat penulis ajukan sehubungan dengan kajian makalah, antara lain :
1. Seyogyanya pihak sekolah (kepala sekolah dan guru) memehami terlebih dahulu hakekat dari mutu pendidikan, indidator keberhasilan dan pendekatan Manajemen Mutu Terpadu.
2. Seyogyanya pihak sekolah (kepala sekolah dan guru) melakukan analisis yang berhubungan dengan kekuatan, kelemahan, hambatan dan tantangan dalam melakukan peningkatan mutu pendidikan.
3. Kepala sekolah senantiasa melakukan kerjasama secara lebih harmonis dengan guru.



DAFTAR PUSTAKA
Irianto.Y.B. (1999). Manajemen Mutu Turpadu (MMT) : Konsep dan strategi Implementasi “TQM” dalam lembaga pendidikan. Adpend FIP IKIP Bandung.

Karto. K. (1996). Manajemen Pendidikan Luar Sekolah. Bandung : Jurusan PLS IKIP Bandung.

Nasution. S. (1992). Metode Penelitian.Bandung : Tarsito
Purwanto. M. Ng. (1992). Administrasi Pendidikan untuk Teknologi dan Kejuruan. Bandung : Rosda Karya.

Rosmiati. T. (1999). Kondisi Sosial Kerja Guru SLTP dalam Kaitannya dengan Mutu PendidikanThesis IKIP Bandung : Tidak Diterbitkan

Santoso. B. (1987 ). Pengendalian Mutu Terpadu. Bandung : Remaja Karya.
Saputra.U.T. (1991). Manajemen Sekolah. Bandung : Jurusan Administrasi Pendidikan FIK IKIP Bandung.

Sudjana.N. & Ibrahim. (1994). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru.
Sutisna.C. (1989). Administrasi Pendidikan : Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional. Bandung : Angkasa.

Tim Khusus Depdikbud (1999). Manajemen sekolah. Jakarta : Depdikbud Dirjendikasmen dan Umum.

Tunggal.A.W. (1992). Manajemen Mutu Terpadu : Suatu Pengantar. Jakarta : Rineka Cipta.

Undang-undang : Nomor 2 Tahun 1989 (1994). Tentang Sistem Pendidikan Nasional Beserta Peraturannya. Jakarta : Sinar Grafika..

Yaqub.H. (1994). Mamajemen Kepemimpinan. Bandung ; CV. Diponegoro.

2 komentar:

  1. tinggal pelaksanaanya aja pak..!

    BalasHapus
  2. insya allah karya tulis ini sudah dilakukan dengan kondisi yang ada di SMP kami

    BalasHapus

silahkan ketik komentar anda tentang posting kami di sini!